Dimata kawan-kawannya Fitradjaja Purnama tergolong unik semasa kuliah maupun aktif dunia dipergerakan. Dia tergolok sosok yang dinamis. Kedinamisannya dilandasi kecerdasan dan penuh inspiratif. Apalagi melihat gejolak sosial yang merugikan rakyat kecil. Fitra selalu tampil sebagai sosok terdepan, memberikan pendampingan (advokasi).
Sebut saja soal Setren Kali yang sampai saat ini, Pemerintahan Kota (Pemkot) Surabaya hanya bisa mengobrak-abrik. Tidak bisa memberikan solusi terbaik untuk mereka. Wilayah Surabaya Barat, soal Tanah Kas Desa (TKD) yang sering berurusan dengan pengembang dan Pemkot. Warga selalu dikalahkan pengembang oleh Pemkot.
Sementara Surat ijo yang selama ini hanya dijadikan komoditi politik ketika musim pemilu. Padahal tanah-tanah yang ditempati oleh wrga itu sesungguhnya sudah bisa dijadikan sebagai hak milik. Mengingat sudah bertahun-tahun, mereka bermukim. Termasuk penggusuran rumah-rumah dinas oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) di Setren Rel. Misalkan di Wonokromo, Gubeng dan Semut.
