Awalnya banyak orang tidak percaya pemilihan wali kota (Pilwali) Surabaya akan menyertakan calon dari perseorangan. Sebab, mereka yang ingin mencalonkan lewat jalur ini harus bisa mengumpulkan dukungan tak sedikit, minimal 88.090 dukungan.
Fitradjaja Purnama, Calon Independen Pilwali Surabaya yang Lolos Verifikasi
SURABAYA- SURYA- Di tengah keraguan itu, pasangan Fitra-Naen (Fitradjaja Purnama-Naen Suryono) membuat kejutan. Pasangan ini dinyatakan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Surabaya lolos verifikasi sebagai calon perseorangan (independen).
Fitradjaja Purnama, Calon Independen Pilwali Surabaya yang Lolos Verifikasi
SURABAYA- SURYA- Di tengah keraguan itu, pasangan Fitra-Naen (Fitradjaja Purnama-Naen Suryono) membuat kejutan. Pasangan ini dinyatakan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Surabaya lolos verifikasi sebagai calon perseorangan (independen).
Mereka menjadi satu-satunya calon perseorangan yang ikut meramaikan Pilwali Surabaya. Satu calon lain yang ikut jalur ini terpental, yakni pasangan Alisjahbana-Chrisman Hadi. Sedangkan Muhammad Sholeh yang sudah memasang baliho dan spanduk di pojok-pojok kota sejak awal akhirnya mundur dan pindah medan perjuangan ke luar Surabaya.
Lolosnya Fitra tidak lepas dari aktivitasnya di masa lalu. Aktivis prodemokrasi (Prodem) ini tidak bekerja sendiri dalam mencari dukungan warga Surabaya. Di bawah bayang-bayang bukan warga asli Surabaya, Fitra berharap pada kawan-kawannya yang senasib seperjuangan di organ Konsolidasi Arek Suroboyo untuk mencarikan dukungan. Walhasil, pria kelahiran Banyuwangi, 39 tahun lalu itu pun lolos verifikasi.
Perjuangan Fitra bersama kawan-kawannya di dunia demokrasi bukan hal baru. Ia sudah aktif sejak lama, tepatnya sejak awal 1990-an. Pergulatan untuk mewujudkan demokrasi di Indonesia ini ia awali dengan mendirikan berbagai organ untuk aktivis prodem. Itulah dunia Fitra sebenarnya.
Patutnya, dunia demokrasi bukan hanya menjadi wacana yang hanya muncul di otak. Di samping mewacanakan itu, Fitra ikut terlibat dalam dunia pergerakan yang memberdayakan masyarakat. Alumnus Institut 10 Nopember Surabaya ini juga terlibat dalam pendampingan kepada partai yang baru lahir di era reformasi 1998 dalam pembahasan wacana demokrasi. Partai yang pernah didampingi tidak tanggung-tanggung, seperti PDIP, PKB, dan PAN.
