Tampilkan postingan dengan label Tentang FitraDjaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang FitraDjaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2010

®;
Tampilkan postingan dengan label Tentang FitraDjaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang FitraDjaja. Tampilkan semua postingan

Bermodal Rp 400 Juta, Berhasil Kumpulkan 90.030 KTP

Awalnya banyak orang tidak percaya pemilihan wali kota (Pilwali) Surabaya akan menyertakan calon dari perseorangan. Sebab, mereka yang ingin mencalonkan lewat jalur ini harus bisa mengumpulkan dukungan tak sedikit, minimal 88.090 dukungan.
Fitradjaja Purnama, Calon Independen Pilwali Surabaya yang Lolos Verifikasi
SURABAYA- SURYA- Di tengah keraguan itu, pasangan Fitra-Naen (Fitradjaja Purnama-Naen Suryono) membuat kejutan. Pasangan ini dinyatakan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Surabaya lolos verifikasi sebagai calon perseorangan (independen).
Mereka menjadi satu-satunya calon perseorangan yang ikut meramaikan Pilwali Surabaya. Satu calon lain yang ikut jalur ini terpental, yakni pasangan Alisjahbana-Chrisman Hadi. Sedangkan Muhammad Sholeh yang sudah memasang baliho dan spanduk di pojok-pojok kota sejak awal akhirnya mundur dan pindah medan perjuangan ke luar Surabaya.
Lolosnya Fitra tidak lepas dari aktivitasnya di masa lalu. Aktivis prodemokrasi (Prodem) ini tidak bekerja sendiri dalam mencari dukungan warga Surabaya. Di bawah bayang-bayang bukan warga asli Surabaya, Fitra berharap pada kawan-kawannya yang senasib seperjuangan di organ Konsolidasi Arek Suroboyo untuk mencarikan dukungan. Walhasil, pria kelahiran Banyuwangi, 39 tahun lalu itu pun lolos verifikasi.
Perjuangan Fitra bersama kawan-kawannya di dunia demokrasi bukan hal baru. Ia sudah aktif sejak lama, tepatnya sejak awal 1990-an. Pergulatan untuk mewujudkan demokrasi di Indonesia ini ia awali dengan mendirikan berbagai organ untuk aktivis prodem. Itulah dunia Fitra sebenarnya.
Patutnya, dunia demokrasi bukan hanya menjadi wacana yang hanya muncul di otak. Di samping mewacanakan itu, Fitra ikut terlibat dalam dunia pergerakan yang memberdayakan masyarakat. Alumnus Institut 10 Nopember Surabaya ini juga terlibat dalam pendampingan kepada partai yang baru lahir di era reformasi 1998 dalam pembahasan wacana demokrasi. Partai yang pernah didampingi tidak tanggung-tanggung, seperti PDIP, PKB, dan PAN.

Tentang FitraDjaja Purnama

Penulis: Dhodhott Markodhott1,2
Begitu mendengar nama Fitrajaya Purnama (untuk selanjutnya disingkat FP) diusung oleh forum Konsolidasi Arek Suroboyo sebagai calon walikota melalui jalur independen, penulis langsung menangkap secercah cahaya kemajuan bakal terpancar di ufuk kota Surabaya tercinta, apabila FP terpilih menjadi walikota nantinya. Secara pribadi, penulis mengenal FP sebagai sosok yang teguh memegang idealisme. Kepekaan serta keberpihakan beliau kepada rakyat kecil, sudah begitu terasah melalui berbagai aktivitas sejak beliau mengenyam pendidikan di jurusan Teknik Mesin ITS. Di kampus perjuangan inilah ‘karir politik’ beliau dimulai. Salah satu pencetus ide pendirian Senat Mahasiswa ITS di tahun 1993 ini begitu giat menyuarakan perlunya pembaharuan pada sistem kepemimpinan nasional sejak awal 90 an. Di tengah ancaman keselamatan diri pun, beliau tidak pernah surut memperjuangkan reformasi total di bumi Indonesia dan sebagai titik kulminasi adalah tumbangnya rezim orde baru di tahun 1998, dimana FP turut serta berperan serta aktif sebagai salah satu aktivis ’98.

Menilik sebagian rekam jejak FP, maka penulis sangat meyakini kalau ketidakpuasan FP terhadap birokrasi pemerintahan yang ada saat inilah, yang menggugah beliau untuk mengambil peran aktif dalam dunia birokrasi. Penulis sangat bisa merasakan, bahwa kata 'reformasi' hanyalah dijadikan sebagai penghias dalam praktek pemerintahan sehari-hari. Para birokrat kota Surabaya, dirasa sudah melupakan hakikat sebenarnya dari reformasi itu sendiri. Hal inilah yang menjadikan FP ingin berbuat lebih, dengan cara terjun langsung ke dalam sistem birokrasi itu sendiri. Sebab, hanya dengan cara ikut mencalonkan diri sebagai walikota Surabaya dan tentu dengan harapan bisa terpilih nantinya, keinginan untuk tetap berjalan lurus di jalur reformasi di segala bidang untuk kesejahteraan rakyat, bisa tetap bisa terjaga. Berlatar belakang segudang pengalaman berorganisasi ditunjang kematangan dalam berpikir logis serta kedekatan dan kepekaan beliau terhadap rakyat kecil, rasanya tidak mungkin bagi penulis untuk tidak mengakui kemampuan managerial seorang FP untuk dihadapkan pada tantangan mengelola kota metropolis sebesar Surabaya tercinta. Kemampuan FP sangat dibutuhkan guna mewujudkan cita-cita Surabaya untuk bisa berdiri sama tinggi dengan kota-kota besar lain di dunia.