Pengantar:
Ini tulisan dari seorang kawan, yang sekarang sedang studi di Urbana, IL, untuk memberi dukungan pada kawan yang sekarang maju sebagai Calon Walikota Surabaya, dari Jalur Perseorangan (Independen). Kawan itu adalah Fitrajaya, aktivis 90-an, yang dulu tergabung dalam Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI).
————-
Surat Terbuka Untuk Fitrajaya *
By Andi Irawan Today at 1:16pm
‘Tra, selamat yo! Awak gak kaget, wis kudune, wis wayahe!
‘Tra, selamat yo! Awak gak kaget, wis kudune, wis wayahe!
Sebagian mungkin sedang mengelu-elukanmu sebagai “from zero to hero”. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap mereka yang tulus memberikan penghargaan itu padamu, menurutku atribut itu (dapat) menyesatkan. Aku punya dua alasan.
Pertama, jalan yang pernah kita tempuh telah menancapkan suatu anti-hero attitude di benak kita sebagai suatu kesadaran. Satu-satunya lakon atau hero dalam gerakan pro-demokrasi dan reformasi adalah rakyat! Masih ingat prinsip ini ‘kan? Kita sering mendiskusikannya di warkop pinggir jalan,di kantin, lorong, dan parkiran berbagai kampus di Surabaya dan kota-kota lainnya, di rumah Bratang, serta di rumah Klampis. Kita juga mempercayainya sebagai pendekatan dalam pendampingan dan advokasi. Kita memupuknya sebagai suatu metode anti elitisme, menolak tunduk pada oligarki politik, mendorong inklusifitas dan partisipasi, serta menjaga akal sehat. Aku percaya, kamu masih menghayatinya. Bukankah kamu saat ini bisa menjadi Cawali tanpa perlu menghiba tiket dari parpol karena didukung ratusan elemen dan komunitas masyarakat yang tergabung dalam Konsolidasi Arek Suroboyo (KAS)? Aku yakin, bagimu, atribut di atas lebih tepat dialamatkan ke mereka.
